Sijundai adalah kisah tentang cinta yang terlarang, perbedaan agama, perpecahan budaya dan penyesalan yang menyesakkan hati. Akankah Amy dan Ona menemukan jalan keluar dari lingkaran kelam yang mereka ciptakan, atau akankah takdir menyimpan akhir yang pahit bagi keduanya?
Bab 1: Kemilau Kampung Kinari
Matahari pagi menyelinap di sela-sela pepohonan kelapa, memantulkan cahaya ke sawah yang terhampar luas di Kampung Kinari.
Embun masih menempel di daun-daun padi, menciptakan kilauan seperti permata. Di ujung jalan kampung yang berbatu, sebuah rumah gadang berdiri megah, menonjol di antara rumah-rumah lain. Atapnya yang menjulang berbentuk tanduk kerbau menjadi simbol kejayaan keluarga yang tinggal di dalamnya.
Rumah gadang itu adalah milik keluarga Pak Faisal dan Tek Murni, yang sejak dahulu dikenal sebagai salah satu keluarga terpandang di Kinari. Sebagai penghulu kaum, Pak Faisal dihormati
karena kearifannya dalam memimpin musyawarah adat dan pengelolaan harta pusaka.
Selain itu, keluarga ini memiliki sawah-sawah yang luas, ladang kelapa, dan kebun yang membentang sejauh mata memandang. Semua itu adalah warisan turun-temurun yang tetap dijaga hingga kini.
Tek Murni, istrinya, adalah seorang perempuan cerdas yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di kota sebelum menikah. Ia dikenal ramah, namun tegas dalam mengatur rumah tangga dan membimbing anak-anak muda perempuan di kampung dalam pengajian.
Keharmonisan pasangan ini menjadikan mereka teladan di mata masyarakat.
Amy, anak tunggal mereka, tumbuh menjadi kebanggaan keluarga. Ia bukan hanya cantik, dengan wajah bersih yang dihiasi senyum lembut, tetapi juga cerdas dan solehah.
Setelah menyelesaikan SMA dengan nilai tertinggi, ia diterima di Universitas Andalas jurusan kedokteran melalui jalur undangan. Berita itu menyebar dengan cepat di kampung, membuat keluarga ini semakin dihormati.
Di beranda rumah gadang, Amy duduk bersimpuh sambil mengupas mangga. Wajahnya berseri, dengan kerudung yang menutupi rambut panjangnya.
Suara lembut dari dapur memanggilnya.
“Amy….my…bawa ini ke ayahmu,” suara ibunya, Tek Murni, terdengar dari dalam rumah.
Amy berdiri, mengangkat baki berisi segelas teh hangat dan sepiring kue mangkuak.
Di halaman rumah, Pak Faisal sedang mengamati ladang kelapa dari kejauhan. Lelaki itu berdiri tegap meskipun usia telah memperlihatkan garis-garis kelelahan di wajahnya.
Ia tersenyum saat melihat putrinya mendekat.
“Sudah bangun, Yah? “Ini kopinya, ” ucap Amy seraya menyodorkan baki.
Pak Faisal mengambil gelas itu dengan penuh kasih.
“Amy, Ayah dan Ibu bangga sekali padamu,” katanya sambil menepuk pundak Amy dengan lembut. “Tamat SMA dengan nilai tertinggi, diterima di Universitas Andalas jurusan kedokteran sebagai mahasiswa undangan pula. Kau tahu, seluruh kampung ini bangga padamu.”
Amy tersipu. “Alhamdulillah, Ayah. Ini semua berkat doa Ayah dan Ibu juga .”
Pak Faisal tersenyum lebar, matanya berbinar penuh kebahagiaan. “Nanti, ketika kita ke Padang, Ayah akan mencarikan tempat tinggal terbaik untukmu. Kalau bisa, biar Ayah belikan mobil baru sekalian. Mobil itu akan memudahkanmu ke kampus dan menyimpan buku-buku atau barang-barangmu. Bagaimana?”
“Iya, My,” sela Tek Murni yang datang membawa baki lain. “Ibu juga mau anterin Amy ke Padang. Nanti bareng-bareng, kita cari tempat tinggal yang nyaman untukmu. Tinggal di kota besar itu banyak tantangan, jadi kalau Amy punya dan kendaraan sendiri, ibu lebih tenang.”
Amy tersenyum lebar mendengar rencana orang tuanya. “Terima kasih, Ayah dan Ibu. Tapi Amy tidak mau berlebih-lebihan, nanti kosnya dekat kampus saja, biar bisa jalan kaki atau naik kendaraan@ umum saja, bagaimana Yah?.
Pak Faisal menggeleng tegas. “Anak Ayah satu-satunya tidak perlu repot seperti itu. Biarlah semua ini menjadi tanggung jawab kami.”
Setelah beberapa saat, Tek Murni menatap Amy dengan lembut. “My, saat kamu tinggal di Padang nanti, Ibu hanya ingin kau tetap menjaga adat kita. Tetap salat lima waktu, jangan lupa mengaji, dan pandai-pandailah memilih teman. Kota itu besar, banyak yang baik, tapi banyak juga yang kurang baik.”
Amy mengangguk. “Insya Allah, Bu. Amy akan jaga pesan Ibu dan Ayah.”
Pak Faisal menambahkan, “Kalau ada apa-apa, jangan segan untuk menelepon Ayah atau Ibu. Kita akan selalu ada untukmu.”
Mereka duduk di bawah pohon mangga di halaman, berbicara panjang lebar tentang rencana keberangkatan Amy ke Padang.
Amy pun menceritakan rencananya untuk mengikuti organisasi kampus agar bisa lebih mengenal teman-temannya dan mendapatkan pengalaman baru.
“Ayah, Amy juga ingin ikut organisasi di kampus nanti, mungkin yang berkaitan dengan kesehatan atau pengabdian masyarakat. Supaya ilmu yang Amy pelajari bisa langsung diterapkan,” ujar Amy penuh semangat.
Pak Faisal tersenyum bangga. “Bagus, Nak. Tapi ingat, kuliah tetap yang utama. Organisasi boleh, asal jangan mengganggu belajarmu.”
“Dan satu lagi yang paling penting, karena kamu satu-satunya anak ayah dan penerus keturunan ibumu, hati-hati dalam pergaulan, kalau ada teman laki-laki yang mendekatimu, kamu harus terbuka sama ayah dan Ibu ya. Ingat kriterianya : harus se-iman dan syarat berikutnya, yang pertama dari Suku Minang, yang kedua dari suku Minang, yang ketiga dari Suku Minang.
“Iya, Ayah,” balas Amy mantap.
Hari itu penuh dengan kebahagiaan dan harapan. Di bawah sinar matahari pagi yang cerah, keluarga itu berbagi canda, tawa, dan rencana-rencana indah untuk masa depan Amy.
Meskipun Amy merasakan kebahagiaan besar karena diterima di Fakultas Kedokteran Unand dan rencananya akan tinggal di Padang, ada perasaan tidak menyenangkan yang sering datang begitu saja. Setiap kali memikirkan masa depannya di Padang, ia merasakan ketidaknyamanan yang sulit dijelaskan, seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu dan belum diketahui.
Amy tak bisa mengabaikan perasaan itu—seolah ada sesuatu yang menunggunya di kejauhan. Sesuatu yang perlahan, tanpa disadari, akan mengubah segalanya.
Apa sebenarnya yang dirasakan Amy? Akankah kebahagiaan keluarganya tetap utuh saat ia melangkah ke dunia baru di Padang? Jangan lewatkan perjalanan Amy di bab berikutnya yang baru pertama kali mencoba hidup sendiri di kota Padang
