Sijundai | Bab 2: Langkah Awal di Kota Padang (Neil Kamiko) - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Minggu, 19 Januari 2025

Sijundai | Bab 2: Langkah Awal di Kota Padang (Neil Kamiko)



Bab 2: Langkah Awal di Kota Padang

Subuh itu, rumah gadang keluarga Amy sibuk dengan persiapan keberangkatan. Koper besar dan beberapa kardus berisi perlengkapan Amy tersusun rapi di teras.

Pak Faisal, ayahnya, sibuk memasukkan barang-barang ke mobil, sementara Tek Murni memastikan semua dokumen dan bekal perjalanan sudah lengkap.

Amy berdiri di depan rumah gadang, menghirup udara pagi yang segar. Ia tahu bahwa kepergiannya ke Padang menandai awal dari sebuah perjalanan baru.

Namun, hatinya berat meninggalkan kampung halaman dan kenangan yang melekat di sana.

“Ayo, Nak. Nanti kita terlambat,” suara lembut ibunya membuyarkan lamunannya.

Ketika fajar mulai merekah, keluarga itu meninggalkan Kampung Kinari yang masih diselimuti embun. Perjalanan menuju Padang penuh canda dan cerita.

Pak Faisal menjelaskan nama-nama daerah yang mereka lewati, sementara Tek Murni berbagi kisah masa mudanya di Padang. Amy sesekali tersenyum, meski pikirannya melayang jauh, membayangkan hari-harinya di kota besar.

Sesampainya di Padang, mereka mencari penginapan untuk beristirahat sementara. Setelah makan siang, keluarga itu mulai mencari kos yang cocok untuk Amy. Beberapa tempat mereka kunjungi, tetapi akhirnya mereka sepakat pada sebuah ruko dua lantai yang disewakan secara eksklusif. Lokasinya strategis, dekat dengan kampus, dan fasilitasnya lengkap. Amy mendapat kamar di lantai dua dengan balkon yang menghadap jalan utama.

“Ini cocok sekali untuk Amy,” ujar Tek Murni sambil memeriksa ruangan.

Setelah menyelesaikan urusan sewa, mereka melengkapi tempat itu dengan perabotan baru. Pak Faisal bahkan membelikan sebuah Honda Jazz merah untuk Amy.

“Dengan ini, kau bisa bepergian lebih mudah. Buku-bukumu, pakaian cadangan, semua bisa kau simpan di sini,” katanya sambil menyerahkan kunci mobil.

Amy memandang mobil itu dengan mata berkaca-kaca. Ia melangkah mendekat, mencium tangan kedua orang tuanya, lalu berkata, "Makasi, Yah, Bu. Amy tahu kalian selalu pengen kasih yang terbaik buat Amy. Amy juga akan melakukan hal yang sama buat Ayah & Ibu,”

Malam itu, mereka menghabiskan waktu bersama di kos baru Amy. Dalam obrolan santai, Amy berbicara tentang rencananya untuk aktif di organisasi kampus.

“Amy ingin ikut kegiatan pengabdian masyarakat, Ayah. Supaya ilmu yang Amy pelajari bisa langsung bermanfaat,” katanya penuh semangat.

Pak Faisal tersenyum bangga. “Itu bagus, tapi jangan lupa, kuliah tetap yang utama.”Saat malam semakin larut, ketika mereka tengah bersiap untuk tidur, terdengar ketukan pelan di pintu kos. Ketukan itu terdengar lemah tetapi teratur, seolah seseorang ingin menyampaikan sesuatu yang penting.

Pak Faisal melirik jam dinding. Pukul 11.30 malam. “Siapa yang mengetuk malam-malam begini?” gumamnya sambil berdiri. Ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih keras. Amy dan ibunya saling berpandangan, sedikit cemas. Pak Faisal membuka pintu perlahan, mengintip keluar. Berdiri di sana, seorang pria tua berjubah lusuh dengan sorot mata tajam yang penuh misteri.

“Maaf mengganggu,” kata pria itu dengan suara serak. “Saya hanya ingin memberikan pesan.” Pak Faisal mengernyit. “Pesan apa?” Pria tua itu menatap Amy di balik punggung ayahnya. Lalu, ia berkata pelan namun jelas, “Anak ini akan bertemu seseorang yang akan mengubah seluruh jalan hidupnya. Tidak semua perubahan itu baik. Hati-hati dengan lisan kalian. Ucapan bisa menjadi doa, baik yang baik maupun yang buruk. Perbanyaklah ibadah, sebab hanya itu yang akan membuat hati kalian tenang saat menghadapi cobaan.”

Tek Murni merinding mendengar kata-kata itu. Pak Faisal mencoba tetap tenang, meski dalam hatinya tumbuh rasa tidak nyaman. Sebelum mereka sempat bertanya lebih lanjut, pria itu melanjutkan, “Apa yang dimulai dengan cinta bisa berakhir dengan air mata, jika tidak dibarengi dengan keikhlasan. "Tanpa menunggu jawaban, pria tua itu melangkah pergi, menghilang di kegelapan malam. Pak Faisal menutup pintu, mencoba menenangkan diri, tapi pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan peringatan itu. Amy merasa tubuhnya dingin, meski ia tidak memahami sepenuhnya maksud ucapan pria tadi. Tapi dia juga selalu merasakan ada ketidaknyamanan yang dia rasakan tapi tidak bisa diungkapkan.

Program