Sijundai | Bab 3: Langkah Pertama di Dunia Baru (Neil Kamiko) - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Minggu, 19 Januari 2025

Sijundai | Bab 3: Langkah Pertama di Dunia Baru (Neil Kamiko)

Bab 3: Langkah Pertama di Dunia Baru

Hari pertama ospek di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dimulai. Amy tiba di aula utama dengan perasaan campur aduk.
Seragam putih hitam yang dikenakan mahasiswa baru tampak menciptakan kesan formal, tetapi tatapan dan senyum canggung di antara mereka menunjukkan rasa gugup yang sama.
"Pagi, kak. Duduk sini aja. Masih kosong," sapa seorang gadis dengan suara ceria.
Amy menoleh dan tersenyum. "Oh, terima kasih." Ia duduk di samping gadis itu.
"Aku Dina. Kamu?"
"Amy," jawabnya sambil menjabat tangan Dina.
Percakapan mereka terpotong oleh suara keras mikrofon.
“Perhatian semuanya! Selamat datang di Fakultas Kedokteran. Kalian akan melewati tiga hari penuh kegiatan yang akan membuka mata kalian tentang arti perjuangan di dunia ini,” ujar seorang senior pria dengan suara penuh wibawa.
Kegiatan hari itu dimulai dengan perkenalan kampus, sesi motivasi, dan permainan kelompok. Dalam salah satu permainan, Amy menjadi sorotan saat ia berhasil memimpin kelompoknya menyelesaikan tantangan logika dengan cepat.
"Anak baru itu cerdas sih, tapi kelihatan banget kalau dia ingin menunjukkan lebih dari yang lain," ujar senior wanita pertama dengan nada terkendali.
"Ya, namanya juga anak baru, sih. Semua orang pasti seperti itu di awal. Tapi, kita lihat saja nanti bagaimana dia bertahan di dunia nyata."
"Benar, baru sehari masuk kampus sudah kelihatan seperti itu. Kita lihat seberapa kuat dia menghadapi tantangan setelah ini. Dunia kedokteran bukan cuma soal pintar, tapi juga soal ketahanan," jawab temannya sambil melirik ke arah Amy. "Kalau dia nggak bisa menyesuaikan diri dengan tekanan, mungkin dia akan kesulitan."
Di sela-sela kegiatan, Amy mulai merasakan ketegangan yang berbeda dari yang ia duga. Banyak mahasiswa lain, terutama senior pria, sering mencuri-curi pandang ke arahnya.
Wajahnya yang teduh dan pembawaannya yang tenang seolah menarik perhatian tanpa ia sadari. Namun, perhatian yang diterimanya tidak semuanya bersahabat.
Setelah makan siang, Amy melangkah ke sisi aula yang lebih sepi, mencari tempat untuk duduk dan beristirahat. Beberapa senior wanita yang sedang berdiri di dekat pintu keluar aula terlihat berbicara dengan suara pelan, tetapi cukup keras untuk didengar oleh Amy yang sedang melintas.
Kata-kata para senior yang seperti terngiang-ngiang di kepalanya, mengganggu pikirannya. Ia tidak terbiasa diperlakukan seperti ini, apalagi dalam lingkungan yang sebelumnya begitu nyaman dengan dukungan keluarga dan teman-teman dekat.
“Aku hanya berusaha menjadi diriku sendiri, aku tidak berniat menarik perhatian siapapun apalagi berusaha untuk terlihat menonjol” kata Amy membatin..
Seusai kegiatan, Amy merasa lelah dan sedikit tertekan. Ia mencari-cari wajah orang tuanya di luar aula, dan akhirnya melihat mereka berdiri di sisi pintu masuk, menunggu dengan senyum hangat.
"Bagaimana, Nak? Lancar ospeknya?" tanya Pak Faisal sambil menyodorkan botol air.
Amy mengangguk pelan. “Seru, Yah. Tapi capek juga.”
Bu Faisal merapikan rambut Amy yang terurai sedikit karena angin. “Semangat, ya, My. Ini baru awal.”
Namun, meskipun orang tuanya terlihat penuh perhatian, Amy tidak bisa menghilangkan perasaan ganjil yang menggelayuti dirinya. Hari pertama ospek ternyata penuh dengan ketegangan yang lebih besar dari yang dia bayangkan.
Dunia yang dulu terasa begitu nyaman dan terjamin kini seolah menguji batas ketahanan dirinya.
Sesampainya di rumah, Amy mencoba untuk merilekskan pikiran, tetapi kata-kata sindiran itu terus menghantuinya. Ia merasa terasing di tengah banyaknya mahasiswa berbakat dan ambisius yang sekarang menjadi saingan langsungnya.
Dunia baru yang ia masuki jauh lebih keras dari yang ia kira.
Dengan pikiran penuh pertanyaan, Amy terbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar yang sunyi. Ia menyadari bahwa ospek baru saja dimulai, dan tantangan yang lebih berat menanti.
Sambil menatap jam di meja samping tempat tidur, ia bertanya-tanya, apakah dirinya cukup kuat untuk bertahan di tengah persaingan yang ketat ini.
Malam itu, Amy duduk memeluk lutut di atas tempat tidurnya. Berpikir tentang apa yang baru saja terjadi, dan menyadari bahwa dunia yang ia masuki bukanlah dunia yang mudah.
Dengan persaingan yang ketat dan banyaknya tantangan yang akan dihadapi, ia harus mencari tahu bagaimana menavigasi semua ini.
Bagaimana Amy akan menghadapinya? Apakah ia mampu bertahan di dunia kedokteran yang penuh intrik dan tekanan? Temukan jawabannya di bab berikutnya!

Program