Tugas Baca 5 | Keajaiban Doa - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Minggu, 02 Februari 2025

Tugas Baca 5 | Keajaiban Doa

2 tahun yg lalu.
Minggu, 2 Oktober 2022

Hari Minggu adalah hari yang paling ditunggu banyak orang. Tak terkecuali aku. Hari Minggu adalah hari menyelesaikan segala pekerjaan rumah dan tak lupa menyisakan waktu untuk merasakan nikmat tidur di siang hari. Kumandang adzan ashar menelusup di gendang telinga. Bagai alarm untuk aku segera mengakhiri nikmatnya tidur siang, tapi dengan rasa malas yang begitu menyerang, punggung mesih setia di atas kasur. Matapun masih berharap terlelap. Sungguh benar benar masih ingin menikmati istirahat setelah sekian hari sibuk dengan segala aktivitas. Namun kenikmatan itu seketika sirna, berganti dengan kesedihan yang tiada terkira. Bagai ditimpa beribu batu, jantung terasa berhenti berdetak. Pikiran tak kuasa menerima kenyataan. "Ibu kenapa?" Aku begitu panik melihat ibu berjalan sempoyongan dan langsung merebah di kamarku, keringat bercucuran, wajah terlihat begitu pucat, mulut dan lidah kaku tak kuasa untuk bergerak. Dengan sisa sisa kekuatan yang diiringi dengan harapan yang besar aku berjalan mencari bantuan, dengan mata yang mulai berkabut, "tolong lihat ibu saya, tolong bantu saya!"
Sehingga orang segera berdatangan ke rumah. 

"Ibu kenapa? Kenapa ibu saya? Ibu?" Tak kuasa menahan air mata. Berbagai asumsi terucap dari tetangga yang menyaksikan, saran pun tak lupa mereka berikan, dalam keadaan yang begitu kacau, dalam keadaan ibu yang sudah tak lagi bisa diajak komunikasi, rumah sakit adalah pilihan kami. 

Diperjalanan menuju rumah sakit tak hentinya aku bermunajat padaNya, berharap ini hanya mimpi belaka. Namun aku salah. Berkali kali memastikan bahwa ini nyata adanya. Orang tuaku sedang diuji dengan penyakitnya. 

Setibanya di ruang Unit Gawat Darurat di RSUD segala pemeriksaan dilakukan, segala alat terpasang disekujur tubuh. Dan aku? Aku masih berharap ini hanyalah sebuah mimpi buruk dalam tidur siangku. Lagi lagi aku terpuruk vonis dokter kembali menyadarkanku. Pecah pembuluh darah di kepala dan sudah menyebar ke otak kiri, tindakan operasi adalah pertolongan pertama yang harus dilalui. 

Serasa raga terpisah dengan nyawa. Lemah tak berdaya, "tuhan... Ini teramat berat untukku, deraian air mata tak lagi bisa aku tahan. Tak ada tempat berpegang, hanya diri dipaksa untuk memimpin diri sendiri. "Masihkah tega engkau rabb ku?" Hati mulai diliputi kekecewaan. "Bencikan Allah kepadaku? Adakah tindakan yang aku perbuat sehingga Allah hukum aku dengan sedemikian cobaan?" Aku mulai marah, benci dan merasa sangat terpuruk dengan keadaan ini.

Tapi semua harus aku lalui. Tak lagi terhitung deraian air mata membasahi pipi. "Dokter lakukan tindakan apapun, karena saya masih ingin orang tua saya bersama saya!" Aku yakinkan hati untuk mengambil sebuah keputusan yang teramat berat ini. "Baik ibu, tapi kami harus jelaskan dulu kemungkinan- kemungkinan yang akan terjadi." Dokter pun menguraikan dengan bijaksana. Aku semakin larut dalam suasana. Dengan terang terangan dokter memberikan penjelasan berakhir di ruang operasi pun ada kemungkinannya. Mendengar itu semua suara tangis pun akhirnya tak bisa ku sembunyikan, aku terduduk di lantai UGD dengan disaksikan belasan pasang mata. "Aku tidak mau itu semua terjadi dok!" Dalam Isak tangis ku berusaha meminta harapan "selamatkan ibu saya! Ya Allah perlihatkan mukjizatMu!"

Perjalanan yang begitu panjang dan penuh air mata. Sirine mobil ambulance berpacu dengan detak jantungku, setiap gerakan ambulance menggoyahkan harapan yang ku balut dalam seuntai doa. Ibuku terbaring lemah tak berdaya dengan berbagai alat terpasang diraga. Pandangan mata tak beralih dari raga yang terbaring kaku dalam ruangan kecil yang sedang melaju dengan cepat. Membelah jalan dalam keheningan malam. Kerlap kerlip lampu jalan menjadi saksi bisu perlombaan melawan waktu. 

Sirine ambulance mereda saat mobil berhenti di hamparan parkir yang luas dan seakan ikut merasakan hati yang diselimuti kabut kabut nestapa, hening, sepi. Petugas dengan gesit menarik brankar, dan membawa pasien. Ruangan baru. Berukuran cukup luas. Belasan brankar kosong, petugas sepi, hanya ada petugas piket, dengan koordinasi yang baik satu brangkar diisi oleh ibuku. Dari dokumen yang ada petugas begitu paham dengan apa yang akan mereka lakukan. Bagai gerakan gerakan kilat semua petugas bergerak sesuai peran masing-masing. 

"Keluarga pasien." Petugas memangkas lamunanku. "Iya pak." Dengan sigap aku mendekat. "Silahkan jemput obat ke apotek! Ibu jalan lurus, belok kiri, lurus, dan apoteknya di sebalah kiri" Sembari memberikan secarik kertas resep dan mengangkat tangan memberikan petunjuk. Takut? Iya, ini rumah sakit dan setiap rumah sakit terkenal dengan segala cerita misterinya. Apalagi waktu sudah menunjukan jam tiga lewat lima belas menit dini hari. Aku pandang seseorang yang terbaring di brankar, "ibu apapun akan aku lakukan." Aku ayunkan langkah sesuai arahan petugas. Ku telusuri lorong demi lorong hingga akhirnya bertemu dengan pintu ruangan yang terpampang tulisan apotek. Pintu tertutup rapat. Gelap. Lampu depannya tak menyala. Ku ayunkan tangan menekan bel. Untuk mengusir ketakutan ku coba buka suara "assalamualaikum. Buk.." tak berselang lama petugas keluar dan mengambil kertas yang aku sodorkan. Selang beberapa menit petugas itu kembali sambil memberikan sekantong obat. "Terimakasih buk." Sekarang aku kembali memacu langkah agar kembali sampai ke ruang IGD. Sekuat tenaga ku percepat langkah, hingga akhirnya pandanganku kembali menangkap seseorang yang terbaring di brankar, dialah ibuku.

Tepat jam 4 brangkar kembali didorong diiringi langkah kaki petugas yang terlatih, bergerak begitu cepatnya, ayunanan langkah seakan seirama dengan bunyi roda brankar yang bergesekan dengan lantai. Aku dan sepupu ibu mengikuti seakan tak ingin tertinggal meskipun beberapa jarak. Jauh berjalan, capek tak lagi dirasakan akhirnya brankar sampai pada tujuan. Di pintu ruangan aku sempatkan membaca sebuah tulisan Ruangan HCU. Sesampai di paling ujung ruangan petugas memindahkan ibuku, melihat fisik ibu yang cukup besar petugas meminta bantuan pihak keluarga, aku yang hanya berdua  tanpa komando, dengan gerak cepat aku menaiki brankar ruangan HCU, akhirnya hitungan detik tubuh ibu sudah berpindah brankar. "Keluarga pasien silahkan menunggu d ruang tunggu, di depan. Sejajar dengan ruangan ini." Petugas memberikan penjelasan "baik buk." Dengan berat hati aku melangkah menuju ruangan yang dimaksud meninggalkan ibu yang terbaring disana.

Sunyi menyapa, dingin menelusup dalam jiwa, dengan kebingungan memastikan apakah benar ini ruangan yang dimaksud petugas. Dengan rasa ragu bercampur takut, aku dorong perlahan pintu ruangan, baru sebagian daun pintu terbuka, terpampang pemandangan yang lebih menakutkan, di ruangan tiga kali tiga terbaring tiga laki laki yang tidur dengan posisi tak beraturan, pikiran dan hati semakin kacau. Benar ini ruangannya? Siapakah mereka? Orang jahatakah? Hati semakin bermonolog, berbagai asumsi memenuhi pikiran, aku tatap saudara sepupu ibu dalam kebingungan, mempertanyakan apakah kita harus masuk atau memilih duduk di luar. Akhirnya karena dingin semakin terasa, rasa takut mulai dikesampingkan. Ku ayunkan kaki. Mulai msuak selangkah dua langkah, dan kembali menutup pintu, dalam keheningan menjelang shubuh kami duduk bersandar ke daun pintu, sibuk dengan pikiran masing-masing. 

Kumandang adzan menyentak lamunan, segera kutunaikan dua rakaat kewajiban. Dan satu persatu laki laki yang tak kami kenal terbangun dari tidurnya. "Maaf! Kami masuk tadi sebelum shubuh. Kebetulan keluarga kami di rawat di ruang HCU." Sepupu ibu membuka pembicaraan yang hingga akhirnya kami saling menguatkan. Karena mereka adalah keluarga pasien yang sedang bertarung melawan penyakitnya, dari sana saya punya kekuatan meskipun tak saling kenal di rumah sakit tapi para keluarga saling menguatkan.

Tepat jam delapan pagi, petugas mengetuk ruangan, memanggil aku untuk segera menemui dokter. Aku tak tau entah bahagia mau ketemu dokter karena bisa mendapatkan penjelasan tentang penyakit ibu, entah aku harus sedih karena takut dengan kemungkinan yang akan terjadi, dengan ragu ku seret langkah menuju ruangan HCU.

"Ibu siapa nya pasien?" Dengan penuh wibawa dokter memulai pembicaraan. "Saya anaknya pak." Dengan serak dan air mata ikut mengalir seiring lontaran jawaban. "Ibu silahkan duduk dulu, dan usahakan tidak menangis, karena jika ibu menangis, ibu tidak akan bisa mendengar dengan baik penjelasan saya." Masih dengan santai dokter berbicara. Aku berusaha untuk tegar dan mengusap kedua mata dan pipi, "baik pak." "Ibu seperti yang sudah di jelaskan di rumah sakit sebelumnya, untuk orang tua ibu harus dilakukan tindakan operasi. Tetapi ibu harus tau dalam setiap tindakan pasti ada resiko." Dokter kembali menjelaskan. Air mata kembali mengalir tanpa permisi, "jika tidak dioperasi bagaimana pak?" "Berarti kita sama dengan membiarkan pasien kondisinya semakin melemah, tetapi jika dioperasipun, saya tidak bisa memastikan orang tua ibu akan kembali sehat. Yang penting kita sudah berusaha, dan ibu sebagai anak doakan orang tuanya, semoga tindakan ini berhasil," dokter menjelaskan dengan panjang lebar. 

Akhirnya setelah perbincangan yang cukup panjang, dengan ikhlas aku menanda tangan surat bersedia dilakukan tindakan. 

Selesai sholat zuhur aku kembali dipanggil oleh petugas. Ternyata operasi akan segera dilakukan, aku kembali mengikuti proses pemindahan orang tua ke ruang operasi, diperjalanan sepanjang lorong rumah sakit, air mata seakan menetes meninggalkan jejak disetiap langkah. Hingga akhirnya ruangan operasi berada di depan mata. "Ibu... aku kembali menangis sejadi jadinya, tak ada lagi rasa malu, kuciumi seluruh wajah ibu, rabb berikan aku kesempatan merawat dan membahagiakan ibu, kalimat terakhirku bisikkan tepat ditelinga ibu sebelum kami dipisahkan oleh waktu selama sekian jam. Di depan ruang operasi aku sibuk bercengkrama dalam hati, mengucapkan segala hal yang aku harapkan. 

Hingga lima jam berlalu pintu kembali terbuka, dan diikuti dokter yang menangani, "keluarga pasien." Panggilnya, aku segera berlari menuju dokter, "alhamdulillah operasi sudah selesai dan berjalan lancar." Serasa semua beban diambil dari pundak. Lega. "Alhamdulillah." Aku langsung sujud syukur sesaat dan bangkit "terima kasih pak." sembari mengambil tangan dokter hendak menyalami. "Jangan berterimakasih sama saya buk, berterimakasihlah sama yang di atas, karena ia telah mengabulkan salah satu doa ibu!" Ucapan dokter kembali membuat saya menangis, iya menangis haru karena memang itu lah doa yang selalu saya sebut sepanjang menunggu, entah seperti apa kucelnya saya dipenuhi air mata,saya tak lagi peduli, yang jelas saya bahagia luar biasa meskipun saya belum tau bagaiman keadaan ibu ke depannya.


Panggilan petugas memaksa aku menghentikan aktivitas di ruang tunggu. Dengan perasaan cemas yang luar biasa aku menyeret langkah ke arah suara. Cemas jika panggilan itu akan menyampaikan hal buruk tentang ibu yang sedang berjuang di ruangan ICU, sejak keluar dari ruang operasi ibu dibawa langsung ke ruang icu dan aku belum bertemu semenjak berpisah di pintu ruangan operasi kemaren. Jarak antara ruang tunggu dengan ICU tidak sampai sepuluh meter, namun terasa mencekam setiap langkah demi langkah, hingga akhirnya langkah sampai pada tujuan, di pintu ICU sudah ada petugas menunggu sambil menyodorkan dua tabung kecil darah "tolong di antarkan ke ruangan lab ya buk, tunggu disana sampai hasilnya keluar dan antarkan kesini." Mendengar ucapan petugas, hati lega, iya lega sekali, karena panggilan hanya disuruh ke ruangan laboratorium. Aku langsung menuju laboratoriu yang ruangannya teramat jauh dari ICU, panjangnya lika liku lorong yang harus dilalui, jam enam pagi berjalan sendirian di lorong rumah sakit cukup menguji nyali. Namun ketakukan itu harus aku tepis. Aku kembali menyeret kangkah hingga akhirnya sampai di ruang labaratorium.


Hati resah menunggu jam 11.00 siang, rasanya jarum jam tak kunjung berjalan, penantian begitu lama terasa, ingin ku mempercepat waktu, tapi ku tak mampu. Akhirnya setelah penantian yang cukup membosankan berakhir juga, seiring petugas mengganti papan informasi di depan pintu dengan kalimat jam besuk 11.00 sampai jam 13.00, kembali perasaan campur aduk, pikiran kacau, banyak pertanyaan dalam benak, dengan langkah ragu ragu ku arahkan langkah menuju ruangan ICU, langkah pertama aku bingung mau ke bed arah Kanan atau kiri, aku belum tau dimana posisi bed ibu, selangkah dua langkah aku memasuki ruangan, melihat masing masing pasien yang terdekat dari bed, tak kutemukan ibu disana, semua pasien lemah tak berdaya lengkap dengan segala macam alat medis melekat di tubuhnya, bunyi alat alat medis seolah musik yang mengalun  bagai irama yang semakin menyayat hati. Dalam kebingungan "ibu keluarga siapa?" Suara seorang laki laki mengagetkan dalam keraguan. Dengan lantang aku menjawab memberitahu nama pasien, "owh ini buk, ibunya sambil menunjuk ke arah bed sebelah kiri dari posisiku berdiri!" Seketika mata tertuju ke arah bed yang ditunjuk oleh perawat itu, di atas bed bernuansa putih itu terbaring seseorang, seakan tak percaya jika dia ibuku, dalam kondisi yang teramat lemah, di tangan dan kaki dihiasi alat medis, mulut dan hidung pun demikian, kepala diperban dan di puncak kepala seperti menonjol, entah lah, aku tak lagi bisa mendeskripsikan bagaimana terlukanya aku saat menyaksikan keadaan itu, perlahan ku seret langkah mendekati, "ibu.... Bangun Bu!" Dengan untaian air mata aku elus lembut tubuh lemah itu, namun tak ada respon sama sekali, ku alihkan pandangan ke monitor di samping kiri ibu, yang aku tau dari sinetron alat itu biasanya jika menampilkan garis garis zig zag pertanda pasien masih dizona aman, kembali ku gerakkan bibir "ibu... Bangun Bu..." Air mata tak bisa lagi aku tahan, ternyata dari kejauhan ada sepasang mata yang memperhatikanku, "ibu coba ibu kesini dlu," panggilnya dari meja perawat, sambil menghapus air mata ku urai langkah menuju sumber suara, "Bu ibu kan anaknya pasien ya, jika ibu menangis seperti ini, tidak akan ada pertolongan untuk ibuknya, yang ada, menambah perkembangan ibuknya terganggu, ibuknya seharusnya sudah sadar, cuma masih dikuasai obat, yang ia butuhkan sekarang adalah doa, ibu silahkan berdoa di dekat siibu, lafaskan doanya, agar ibu dengan perlahan bisa mendengar dan jika ibu bisa mengaji alangkah baiknya ibu mengaji, sini saya bantu!" Sambil sidokter berjalan ke arah bed ibu, dengan tangannya ia mencoba mencubit cubit bagian dada ibu beberapa kali, sambil berkata "ibuk! Bangun buk, ini anaknya datang!" Seketika ibu membuka matanya, tapi hanya sesaat setelahnya mata itu kembali tertutup, beberapa kali dokter melakukan hal yang sama namun mata itu hanya terbuka sesaat. "Bu, ibuknya masih sangat dipengaruhi bius, tapi gak apa apa, ibu silahkan mengaji disini, manfaatkan jam besuk sebaik baik mungkin mengirim doa dan mengaji semoga itu bisa menjadi sugesti untuk kesadaran ibu, karena bonding anak dengan seorang ibu itu sangat kuat," ucap dokter panjang lebar. "Baik pak. Terimakasih pak." Ucapku. Dokterpun berlalu meninggalkan aku dan ibu yang terbaring. 

Aku raih tangan ibu, ku cium penuh kasih. Aku lafaskan doa doa "ya Allah berikan aku kesempatan merawat ibu, perlihatkan mukjizatMu, berikan ibuku kesembuhan." Semua keinginan keinginan aku sebutkan dalam untaian doaku, saat beberapa keluarga pasien melintasi bed ibu, ia selalu berhenti sejenak, memperlihatkan rasa simpatinya kadang tak segan mereka mengusap punggungku pertanda memberikan kekuatan. Tak terasa jam besuk sudah berakhir, ku cium tangan ibu, sungguh aku ingin mencium bagian wajah tapi aku takut tindakan itu akan membuat ibu kesakitan, mengingat luka ibu di bagian kepala, dengan berat ku tinggalkan ruangan mencekam itu, dilorong menuju ruang tunggu aku lepaskan tangisan, "rabb kenapa ini Engkau timpakan kepada ku? Rasanya aku tak sanggup rabb," Aku merutuki nasib. "Dengan apa akan kupenuhi kebutuhan merawat ibu? Siapa yang akan menjaga ibu? Sementara aku bekerja, ayahpun tak punya, saudarapun jauh disana, rasanya aku ingin pergi jauh, lari dan tak kembali lagi.

Tapi.... atas kuasa illahi semua sudah kulewati lebih dari 2 tahun. Dan ibuku? Allah mengabulkan doaku, allah percayakan untuk aku merawat ibu, suka dan duka tiada lagi terhitung, terimakasih Rabb. Sehat sehat selalu ibu! 




Hasil Penilaian Membaca Teks Keajaiban Doa

Program