Di sebuah kerajaan yang makmur bernama Kerajaan Astadewi, hiduplah tiga putri raja yang amat cantik dan berbudi luhur. Mereka adalah Putri Liris yang lembut dan penuh kasih, Putri Sora yang cerdas dan bijaksana, serta Putri Mala yang pemberani dan penuh semangat. Kecantikan mereka bukan hanya terpancar dari wajah mereka, tetapi juga dari hati dan sifat mereka yang baik.
Suatu hari, sang Raja mengumpulkan ketiga putrinya di aula istana. Wajahnya tampak serius.
"Anak-anakku," katanya, "Kerajaan ini membutuhkan penerus yang layak. Oleh karena itu, aku akan menguji kalian dengan tiga tantangan. Siapa yang berhasil melewatinya dengan baik, dialah yang akan mewarisi takhta kerajaan ini."
Ketiga putri saling berpandangan. Mereka mencintai kerajaan dan rakyatnya, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang tamak akan kekuasaan. Meski begitu, mereka menerima tantangan sang Raja dengan hati yang teguh.
Ujian Pertama: Hati yang Murah Hati 
Raja membawa ketiga putrinya ke desa-desa di pinggiran kerajaan. Di sana, banyak rakyat yang hidup sederhana dan tidak semua memiliki makanan berlimpah. Sang Raja memberikan sekantong emas kepada masing-masing putri dan berkata, "Gunakan ini dengan bijak. Aku ingin melihat bagaimana kalian menggunakan kekayaan untuk membantu orang lain."
Putri Liris segera membagikan emasnya kepada para penduduk miskin, memastikan semua orang mendapatkan bagian yang cukup. Putri Sora menggunakan emasnya untuk membangun sumur dan sekolah agar rakyat dapat hidup lebih baik dalam jangka panjang. Sementara itu, Putri Mala membeli alat dan benih pertanian agar penduduk bisa bercocok tanam sendiri dan tidak lagi kelaparan.
Sang Raja tersenyum bangga. Ketiga putrinya telah menunjukkan kebijaksanaan mereka dengan cara yang unik.
Ujian Kedua: Keberanian yang Sejati 

Malam itu, seorang utusan datang membawa kabar bahwa seekor naga liar mengganggu desa di tepi hutan. Banyak penduduk yang ketakutan dan tidak ada yang berani menghadapinya.
Tanpa ragu, Putri Mala langsung mengambil pedang dan bergegas menuju hutan. "Aku akan melindungi rakyat!" serunya.
Putri Sora, dengan kecerdasannya, berpikir sejenak dan berkata, "Kita harus mencari tahu mengapa naga itu mengamuk. Mungkin ada alasan di baliknya."
Sementara itu, Putri Liris membawa sekantung makanan dan berbisik, "Mungkin dia hanya lapar dan marah karena merasa terancam."
Ketika mereka tiba di desa, naga itu tampak mengamuk, tetapi tubuhnya lemah dan matanya terlihat sedih. Putri Liris dengan hati-hati mendekati naga itu dan menyodorkan makanan. Naga itu mengendus, lalu memakan makanan dengan lahap.
Putri Sora memperhatikan sekeliling dan menemukan bahwa gua tempat naga itu tinggal telah dihancurkan oleh para pemburu harta. "Kita telah merampas rumahnya, itulah sebabnya dia marah," katanya.
Putri Mala lalu berkata, "Jika begitu, kita harus membangun kembali rumahnya dan memastikan rakyat tidak mengusiknya lagi."
Dengan usaha bersama, mereka berhasil menenangkan naga tersebut dan membangun kembali guanya. Setelah itu, naga tidak pernah lagi mengganggu desa, bahkan menjadi pelindung bagi rakyat.
Ujian Ketiga: Hati yang Tulus 

Sang Raja menyadari bahwa ketiga putrinya telah menunjukkan keberanian, kebijaksanaan, dan kemurahan hati. Namun, masih ada satu ujian terakhir.
Ia memberi mereka masing-masing sebuah kotak emas yang tampak indah dan berkata, "Di dalam kotak ini ada sesuatu yang sangat berharga. Aku ingin kalian memilih apakah akan menyimpannya atau membagikannya."
Ketika mereka membuka kotaknya, mereka melihat permata yang sangat berkilauan.
Putri Liris berpikir sejenak lalu berkata, "Keindahan ini lebih baik dinikmati bersama. Aku akan memberikan permata ini untuk menghias istana rakyat agar mereka ikut merasakan kebahagiaan."
Putri Sora memandang permata itu dan berkata, "Aku ingin meneliti permata ini dan mencari cara untuk membuat lebih banyak lagi agar semua orang bisa memilikinya."
Putri Mala menutup kotaknya dan menyerahkannya kembali kepada Raja. "Aku tidak butuh ini. Aku lebih suka membuat pedang yang kuat untuk melindungi kerajaan daripada menyimpan harta untuk diri sendiri."
Sang Raja tersenyum lebar. "Kalian semua telah lulus ujian dengan hati yang tulus. Tidak ada yang lebih berharga daripada memiliki pemimpin yang peduli pada rakyatnya."
Pada akhirnya, Raja tidak memilih hanya satu putri untuk menjadi penerusnya. Ia membagi kerajaan menjadi tiga bagian, masing-masing dipimpin oleh putri yang paling sesuai dengan keahliannya.
Mereka bertiga memimpin dengan adil dan makmur, membuat Kerajaan Astadewi menjadi negeri yang paling damai dan indah.
Dan begitulah, legenda tiga putri cantik yang penuh kebajikan diceritakan dari generasi ke generasi, mengajarkan bahwa kecantikan sejati berasal dari hati yang baik dan tulus.
