Namaku Saka. Jika ada yang bertanya apa yang paling membentuk diriku saat ini, aku akan menjawab: luka. Aku lahir dari perpisahan—ayah dan ibu yang memilih jalannya masing-masing sebelum aku bahkan bisa memahami apa itu keluarga. Sejak kecil, aku tumbuh dalam kekosongan, merindukan sesuatu yang tak pernah benar-benar aku miliki.
Tapi di antara luka-luka itu, aku menemukan bahagia. Bahagia dalam wujud kecil yang mungkin tak berarti bagi orang lain. Tawa teman-teman saat kami bermain hujan, kehangatan segelas teh yang diseduh nenek setiap sore, atau suara musik yang mengalun dari radio tua di sudut kamar. Aku belajar bahwa bahagia tidak selalu tentang memiliki sesuatu yang sempurna, tapi tentang menerima dan menemukan cahaya di sela-sela kegelapan.
Suatu hari, aku bertemu Lila. Dia seperti angin sepoi-sepoi di musim kemarau—menyejukkan, tapi juga membawa perasaan yang tak bisa dijelaskan. Dia selalu berkata bahwa hidup adalah tarian antara luka dan bahagia. Bahwa manusia sering kali terjebak dalam salah satunya, padahal keduanya diciptakan untuk berjalan berdampingan.
"Aku ingin hidup tanpa luka," kataku padanya suatu malam.
Lila tersenyum, menatap langit berbintang. "Kalau begitu, kamu juga tidak akan mengenal bahagia."
Aku terdiam. Kata-katanya sederhana, tapi menghantamku lebih dalam daripada yang kukira. Sejak saat itu, aku mulai belajar untuk menerima—menerima bahwa setiap luka yang aku alami bukan hanya bekas, tapi juga pengingat bahwa aku pernah bertahan. Bahwa aku pernah jatuh, tapi juga pernah bangkit.
Kini, aku mengerti. Luka dan bahagia adalah dua hal yang akan selalu ada dalam pikiranku. Mereka bukan musuh, tapi bagian dari perjalanan. Aku tak lagi berusaha menghapus salah satunya, karena aku tahu, justru di sanalah hidup menjadi lengkap.
Dan dalam luka serta bahagia yang datang silih berganti, aku tetap berjalan, terus melangkah, menyambut hari esok dengan hati yang lebih lapang.
Sumber: https://www.facebook.com/share/p/18wM1x2o3g/