"Pak... apa tidak sebaiknya Wahyu ikut ke sawah? Kasihan juga, ia hanya di rumah tidur-tiduran," lirih Bu Darmi sambil merapikan caping Pak Darto.
Pak Darto menghela napas panjang, menatap rumah kecil mereka dari kejauhan.
"Sudahlah, Bu... mungkin belum saatnya. Anak itu masih cari jalannya."
Sementara itu di rumah, Wahyu menggeliat di kasur, menguap lebar. Pagi baginya hanya waktu untuk kembali memejamkan mata.
Minggu berikutnya, ada perubahan tak terduga. Wahyu pulang dengan semangat membara.
"Bu, Pak!" serunya sambil membuka pintu rumah. "Aku mau kerja di luar negeri!"
Bu Darmi dan Pak Darto saling berpandangan, terkejut.
"Lho, kok tiba-tiba, Yu?" tanya Bu Darmi.
"Temanku, si Jaka, kerja di luar negeri. Katanya gajinya besar! Aku nggak mau begini terus, Bu, Pak. Aku mau bantu keluarga!" wajah Wahyu bersinar, seakan-akan semangat hidup baru telah membakar dirinya.
Pak Darto menatap mata anak laki-lakinya dalam-dalam. Ada harapan di sana.
"Kalau kau sungguh-sungguh, Bapak dukung."
Tak butuh lama, Pak Darto menjual sepetak ladang mereka, hasil kerja keras bertahun-tahun, untuk membiayai keberangkatan Wahyu.
Saat mengantar Wahyu ke Bandara, Pak Darto menepuk bahu anaknya, "Ingat ya, Yu... di tanah orang, kerja keras itu harga mati. Jangan malu, jangan menyerah."
"Iya, Pak. Bu. Doakan aku ya," Wahyu tersenyum lebar.
Namun, empat bulan kemudian, pintu rumah itu kembali berderit.
"Assalamualaikum..." suara yang familiar.
Bu Darmi tergesa keluar. Melihat Wahyu berdiri di ambang pintu dengan tas lusuh, ia hampir tak percaya.
"Lho, Yu? Kok... udah pulang?" tanya Bu Darmi.
Wahyu menghela napas berat. "Aku nggak tahan kerja di sana, Bu. Berat. Beda sama yang kubayangin."
Pak Darto yang baru keluar dari dapur terdiam lama. Matanya berkaca-kaca. Ia tahu, ladang yang dijual tak akan kembali. Namun ia hanya tersenyum kecil.
"Yang penting kau sehat," katanya lirih, menahan kecewa.
Hari-hari berlalu. Wahyu kembali ke kebiasaannya: tidur, nongkrong, menghabiskan sisa-sisa tabungan orangtuanya. Sementara Pak Darto dan Bu Darmi, kini tubuhnya makin ringkih, tetap bertahan menggarap sawah.
Sampai suatu pagi, Pak Darto terjatuh di pematang sawah.
"Pak! Pak bangun, Pak!" Bu Darmi panik memanggil.
Pak Darto dirawat di rumah sakit. Seminggu lamanya Bu Darmi setia mendampingi, berharap keajaiban datang. Tapi takdir berkata lain. Pak Darto mengembuskan napas terakhirnya dengan senyum tipis.
"Bu... jaga Wahyu... jaga Intan... maaf... Pak belum bisa bahagiain kalian..." bisik Pak Darto sebelum pergi untuk selamanya.
Tangisan Bu Darmi memecah ruang sunyi.
Belum genap 40 hari Pak Darto wafat, Wahyu kembali dengan permintaan.
"Bu... jual saja sawah yang satu lagi itu. Aku mau buat usaha. Biar hidup kita enak, Bu," rayunya.
Bu Darmi menunduk, hatinya teriris.
"Yu... itu sawah peninggalan Bapakmu. Apa nggak sebaiknya dipikirkan lagi?"
"Tolonglah, Bu. Aku janji kali ini sungguh-sungguh," Wahyu memelas.
Dengan berat hati, Bu Darmi menyerah. Sawah dijual.
Namun usaha Wahyu hanya bertahan enam bulan. Bangkrut. Barang-barang rumah pun mulai dijual satu-satu. Puncaknya, Wahyu nekad menggadaikan rumah satu-satunya.
Suatu malam, Bu Darmi pulang dari pasar dan mendapati selembar surat di pintu: Pemberitahuan Penyitaan Bank.
"Astaghfirullah..." lutut Bu Darmi lemas. Ia terduduk di lantai, menangis tanpa suara.
"Kenapa, Yu... kenapa kau tega begini..." bisiknya sambil menggenggam surat itu erat-erat.
Tak lama, rumah mereka resmi disita. Bu Darmi kini tinggal di kontrakan kecil bersama Intan yang baru saja lulus dan bekerja paruh waktu.
Suatu malam, Intan mengusap tangan ibunya.
"Ibu sabar ya... Intan janji akan kerja keras. Kita pasti bisa bangkit."
Bu Darmi mengangguk sambil membelai rambut anak gadisnya.
"Maafkan Ibu... karena kebodohan Ibu... kita begini."
"Jangan bicara begitu, Bu. Ibu sudah berjuang. Aku bangga punya Ibu," ucap Intan sambil menahan air mata.
Sementara itu, Wahyu hidup menggelandang di kampung. Tiada lagi teman, tiada lagi harta, hanya sisa-sisa kenangan tentang keluarga yang dulu menyayanginya tanpa syarat.
Pada suatu sore, dari jauh Wahyu melihat Bu Darmi berjalan terpincang dengan membawa belanjaan berat. Ia ingin berlari memanggil... tapi keberanian itu lenyap.
Ia hanya bisa menunduk malu, menghilang dalam bayang-bayang senja.
Hari-hari di kontrakan kecil itu berjalan pelan. Intan sibuk bekerja sebagai kasir minimarket, sementara Bu Darmi sesekali membantu tetangga mengupas bawang atau mencuci pakaian untuk sekadar mendapat upah.
Suatu malam, Bu Darmi duduk sendiri di teras kos, menatap bintang-bintang yang redup.
"Pak ... maafkan aku... aku gagal menjaga amanahmu," gumamnya lirih, air mata jatuh membasahi pipi keriputnya.
Sementara itu, di sudut kampung, Wahyu tidur di emperan toko yang tutup. Perutnya keroncongan, tubuhnya kurus. Ia menatap langit yang sama.
"Pak... Bu... kenapa aku sebodoh ini..." isaknya perlahan.
Beberapa hari kemudian, Wahyu memberanikan diri mendekati kontrakan Bu Darmi. Ia berdiri jauh, mengintip dari balik pohon. Melihat ibunya yang tampak lelah menjemur pakaian basah, hatinya seperti ditusuk ribuan jarum.
Tiba-tiba, Intan keluar membawa termos air panas. Ia melirik ke arah Wahyu dan langsung mengenali sosok lusuh itu.
"Mas Wahyu..." lirihnya.
Wahyu tersentak. Ia mencoba kabur, tapi Intan berlari mengejarnya.
"Mas, tunggu!" Intan memanggil dengan napas memburu.
Akhirnya, di sebuah gang sempit, mereka berdua berdiri berhadapan. Wahyu menunduk dalam-dalam, tak berani menatap adiknya.
"Mas..." suara Intan bergetar. "Kenapa Mas jadi seperti ini?"
Wahyu menggigit bibirnya keras-keras. Air matanya jatuh.
"Aku... aku malu, Tan... Aku hancurin hidup Ibu... hancurin semua harapan Bapak..."
Intan menahan sesak di dadanya. Ia ingin marah, ingin berteriak... tapi melihat wajah kakaknya yang begitu hancur, rasa kasihan yang justru mengalir.
"Kita nggak butuh Mas sempurna... kita cuma butuh Mas sadar..." ucap Intan, suaranya bergetar.
Wahyu jatuh berlutut. Tangisnya pecah.
"Ajari aku, Tan... ajari aku berubah... aku... aku mau tebus semua ini..."
Malam itu, Wahyu akhirnya memberanikan diri menemui Bu Darmi. Ia berdiri gemetar di depan pintu kos.
"Bu... ini aku... Wahyu..." suaranya serak.
Pintu dibuka perlahan. Bu Darmi berdiri di ambang, tubuhnya kaku. Matanya sembab.
Untuk beberapa saat, hanya hening yang mengisi udara. Sampai akhirnya Bu Darmi perlahan melangkah maju, memeluk tubuh Wahyu yang lemah.
"Ibu nggak pernah benci kamu, Yu..." bisik Bu Darmi di telinga Wahyu. "Ibu cuma mau kamu kembali jadi Wahyu yang dulu... anak baik yang Bapakmu banggakan."
Tangisan mereka berdua pecah di bawah langit malam.
Hari-hari selanjutnya, Wahyu berusaha keras memperbaiki hidup. Ia bekerja serabutan: jadi kuli bangunan, tukang cuci motor, apa saja yang halal.
Tangan yang dulu lembut kini penuh kapalan. Tubuh yang dulu malas kini terbakar sinar matahari.
Intan, meski masih harus bekerja paruh waktu, kini sedikit lebih ringan bebannya. Ia melihat perubahan nyata di diri Wahyu.
Suatu sore, Wahyu pulang membawa selembar sertifikat pelatihan kerja.
"Bu, Tan... ini buktinya... aku sekarang sudah resmi bisa kerja bangunan profesional. Ada proyek baru, katanya bisa kerja tetap."
Bu Darmi menangis lagi, tapi kali ini air matanya adalah air mata haru.
"Pak Darto... lihat, Pak... anak kita sudah bangkit," gumamnya sambil menatap foto almarhum suaminya yang digantung sederhana di dinding kos.
Meski hidup mereka masih berat, tapi perlahan cahaya itu kembali menyala. Bukan harta, bukan kemewahan, tapi cinta, kesungguhan, dan tekad untuk memperbaiki kesalahan yang menjadi pondasi baru keluarga kecil itu.
Dan di setiap langkah berat yang Wahyu tempuh, di setiap tetes keringatnya, ada satu janji yang selalu dia genggam erat di dalam hati:
"Aku akan menebus semuanya, Bu... demi Ibu, demi Bapak, dan demi keluarga ini."
Sumber:https://www.facebook.com/share/p/1BSaxhLDpe/