Karya : NAZWA
Matahari mulai mengeluarkan sinarnya, terlihat seorang gadis yang mengeliat ditempat tidurnya. Ia bangun dari tempat tidurnya, masih dengan lampu yang mati dan Susana hangat sebab semburan matahari yang masuk lewat celah ruangan. Gadis itu beranjak, ia menyalakan lampu, dan pergi dengan kondisi sama seperti sebelumnya rambut yang berantakan, baju yang berantakan ia menyusuri ruangan itu.
“ ma, mama, mama dimana “ Ucapnya
“ mama didapur lagi masak”
Gadis itu menuju keruangan
yang beraroma harum tercium walau dari depan sekalipun gadis itu menghampiri
sang mama yang tengah begelut dengan dapurnya.
“ mama masak apa?”
“ mama masak makanan
kesukaanmu nasi goreng”
“ wah…aku jadi semangat
makan deh, kamasih mama, mau aku bantu ga ma”? Tanya gadis itu
“ ga usah sayang, kamu
mandi aja sana, bau iler” ucap nya sembari tertawa
“ mama ih “ rengeknya ia
pun mencium bau tubuhnya memang bau sih
“ ya udah deh, aku mandi,
awas ya, aku sampai di dapur mama hilang!!” ucapnya penuh peringatan
Gadis itu menuju kamarnya
dengan riang, ia masuk lalu bersiap untuk mandi, setelah selesai ia pun
bergegas menuju dapur dengan sedikit berlari dan meloncati tangga rumahnya,
terlalu semangat gadis itu untuk bertemu sang mama hingga.
“ mama..” ucapnya berteriak
ia jatuh dari tangga, ia jatuh dari lantai 2
Rumahnya memang 2 lantai dan kamarnya berada
di lantai 2 ia terguling guling bersimbah darah itu mengucur deras pada
kepalanya, juga kaki yang terasa amat keram, gadis memegangi kepalanya,
merasakan kepala yang mulai memberat hingga mata itu terpejam masih dengan
darah mengucur deras pada kepala.
Yuli menunggu sang anak
sambil menyiapkan sarapan pagi untuknya dan Rania anak semata wayangnya, ia
menunggu dimeja makan sambil berkutat dengan laptopnya, hingga ia mendengarkan teriakan rania, ia bergegas menuju tangga utama tergesa-gesa, memang jarak dapur
dan tangga utama cukup memakan waktu untuk rumah 2 lantai nan megah itu.
“ Astagfirullah, Rania
sayang kamu kenapa bisa kayak gini” lirihnya
Ia berusaha menggandeng
Rania yang bersimbah darah, ia tak bisa menahan tangisnya melihat kondisi sang
anak. Yuli membawa Rania dengan tertatih-tatih membawa Rania kerumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit
Rania segera diperiksa oleh Dokter setelah lama menunggu dengan cemas. Yuli akhirnya melihat sang dokter keluar
ruangan.
“ dokter, bagai mana
keadaan anak saya “
“ Maaf sebelumnya apakah
anak ibu punya riwayat penyakit”
“ Setahu saya tidak ada
Dok” Dokter menghela nafas
“ Begini anak ibu mendapat
Leukimia stadium akhir, bagaimana ibu bisa tidak tahu anak ibu” Tanya sang Dokter
Yuli yang mendengar itu
terdiam meratapi kesalahannya, ia memang jarang dirumah bisa dihitung dengan
jari Yuli berada dirumah menemani sang anak.
Ia terdiam dengan raut penyesalan.
“ lalu bagaimana keadaan
anak saya dok”
“ anak ibu kritis karena
luka dikepala dan juga karena riwayat penyakit anak ibu sendiri “ jelas sang
dokter
“ apakah anak saya bisa bangun dok” khawatir Yuli
“ kemungkinan sangat kecil
“ jawab dokter seadanya
Yuli yang mendengarnya diam
kembali, ia masuk menuju ruangan sang anak di rawat ia duduk disebelah brankas
dengantangan yang selalu senantiasa menelus kepala Rania yang terbalut
perban. Ia tak bisa menahan tangisnya
untuk saat ini, biarlah ia cengeng untuk hari ini.
Dalam rungan yang sepi dan hanya terdengar
suara monitor rumah sakit, Yuli terus memandangi tubuh sang anak yang terbujur
kaku. Tak bosan ia selalu memandang
tubuh Rania saat itu hingga tak terasa sudah 2 jam Yuli berada di rungan sang
anak ia menyesal tak memperhatikan anaknya.
Pantas saya tubuh itu terlihat ringkih dengan rambut yang menipis dan
bibir pucat yang selalu memanggil namanya setiap waktu
“ mama….” Lirih Rania
“ Rania sayang, kamu udah
bangun, maafin mama yang jarang perhatiin kamu” tangis sang mama yang tak bisa berhenti.
“ Rania sengaja ma, Rania nggak
mau mama khawatir “
“ Tapi nggak begini caranya
sayang” lirih Yuli yang mendengarkan uacapan Rania
“ ma, Rania ga papa,
buktinya rania masih ada disamping mama, aku hebatkan ma, aku masih temanin
mama “
“ Anak mama memang hebat,
tapi gak seharusnya seperti itu sayang” lirih Yuli
Yuli masih dengan wajah
yang penuh air mata, bahkan saat ini langit diberikan hadiah olah sang awan
rinai itu seakan sebuah melodi didalam ruangan dengan bau obat yang pekat.
“ mama… Rania minta tolong
sama mama, jangan nangis lagi, hari ini aku ulang tahun loh ma”
Yuli yang mendengar itu
sangat menyesal, bahkan hari spesial anaknya saja ia lupa, ibu macam apa dia
ini
“ maaf, maafin mama sayang,
bahkan hari spesial kamu mama lupa, mama emang ibu yang buruk” ucapnya lirih
“ mama jangan ngomong gitu,
sekarang mama harus janji sama Rania jangan nangis lagi, senyum terus, bahagia
selalu mama” ucapnya terbata-bata.
“ Mama janji asal kamu bias
seperti anak mama yang pagi tadi, bahkan makanan kesukaan mu udah basi
sekarang” ucap yuli dengan mata yang tak berhenti mengeluarkan air mata.
Rania yang mendengarkan itu
hanya menggeleng…ia tersenyum lalu menatap sang ibu yang berderai air mata
“ ma…I LOVE YOU “
“ I LOVE YOU TO sayang “
Ucap Yuli masih dengan
kondisi yang sama sehingga monitor itu mengeluarkan suara, Yuli menangis keluar
memanggil dokter, dokter pun memeriksa Rania, namun naas nyawa Rania sudah
tidak tertolong “ maaf bu, anak ibu sudah sudah tak bernyawa lagi “
Yuli yang mendengar itu
menangis dengan keras, ia kehilangan anak semata wayangnya, tepat dihari melahirkannya kedunia.
“ Rania, sayang bangun ini
hari spesial kamu, ayo bangun sayang”
Yuli terus membangunkan
sang anak walau semuanya hanya sebuah sengsara.
