Nazwa | Aku Hebatkan Ma? - Sgabusi Lite
"Mahir Dalam Literasi Bijak Dalam Aksi, Maksimalkan Teknologi untuk Edukasi, Tingkatkan Kualitas Diri, Didik Generasi"

Selasa, 06 Agustus 2024

Nazwa | Aku Hebatkan Ma?

 


AKU HEBATKAN MA?
Karya : NAZWA

Matahari mulai mengeluarkan sinarnya, terlihat seorang gadis yang mengeliat ditempat tidurnya.  Ia bangun dari tempat tidurnya, masih dengan lampu yang mati dan Susana hangat sebab semburan matahari yang masuk lewat celah ruangan.  Gadis itu beranjak, ia menyalakan lampu, dan pergi dengan kondisi sama seperti sebelumnya rambut yang berantakan, baju yang berantakan ia menyusuri ruangan itu.

“ ma, mama, mama dimana “ Ucapnya

“ mama didapur lagi masak”

Gadis itu menuju keruangan yang beraroma harum tercium walau dari depan sekalipun gadis itu menghampiri sang mama yang tengah begelut dengan dapurnya.

“ mama masak apa?”

“ mama masak makanan kesukaanmu nasi goreng”

“ wah…aku jadi semangat makan deh, kamasih mama, mau aku bantu ga ma”? Tanya gadis itu

“ ga usah sayang, kamu mandi aja sana, bau iler” ucap nya sembari tertawa

“ mama ih “ rengeknya ia pun mencium bau tubuhnya memang bau sih

“ ya udah deh, aku mandi, awas ya, aku sampai di dapur mama hilang!!” ucapnya penuh peringatan

Gadis itu menuju kamarnya dengan riang, ia masuk lalu bersiap untuk mandi, setelah selesai ia pun bergegas menuju dapur dengan sedikit berlari dan meloncati tangga rumahnya, terlalu semangat gadis itu untuk bertemu sang mama hingga.

“ mama..” ucapnya berteriak ia jatuh dari tangga, ia jatuh dari lantai 2

 Rumahnya memang 2 lantai dan kamarnya berada di lantai 2 ia terguling guling bersimbah darah itu mengucur deras pada kepalanya, juga kaki yang terasa amat keram, gadis memegangi kepalanya, merasakan kepala yang mulai memberat hingga mata itu terpejam masih dengan darah mengucur deras pada kepala.

Yuli menunggu sang anak sambil menyiapkan sarapan pagi untuknya dan Rania anak semata wayangnya, ia menunggu dimeja makan sambil berkutat dengan laptopnya, hingga ia mendengarkan teriakan rania, ia bergegas menuju tangga utama tergesa-gesa, memang jarak dapur dan tangga utama cukup memakan waktu untuk rumah 2 lantai nan megah itu.

“ Astagfirullah, Rania sayang kamu kenapa bisa kayak gini” lirihnya

Ia berusaha menggandeng Rania yang bersimbah darah, ia tak bisa menahan tangisnya melihat kondisi sang anak.  Yuli membawa Rania dengan tertatih-tatih membawa Rania kerumah sakit.

Sesampainya dirumah sakit Rania segera diperiksa oleh Dokter setelah lama menunggu dengan cemas.  Yuli akhirnya melihat sang dokter keluar ruangan. 

“ dokter, bagai mana keadaan anak saya “

“ Maaf sebelumnya apakah anak ibu punya riwayat penyakit”

“ Setahu saya tidak ada Dok” Dokter menghela nafas

“ Begini anak ibu mendapat Leukimia stadium akhir, bagaimana ibu bisa tidak tahu anak ibu” Tanya sang  Dokter

Yuli yang mendengar itu terdiam meratapi kesalahannya, ia memang jarang dirumah bisa dihitung dengan jari Yuli berada dirumah menemani sang anak.  Ia terdiam dengan raut penyesalan.

“ lalu bagaimana keadaan anak saya dok”

“ anak ibu kritis karena luka dikepala dan juga karena riwayat penyakit anak ibu sendiri “ jelas sang dokter

“ apakah anak saya bisa bangun dok” khawatir Yuli

“ kemungkinan sangat kecil “ jawab dokter seadanya

Yuli yang mendengarnya diam kembali, ia masuk menuju ruangan sang anak di rawat ia duduk disebelah brankas dengantangan yang selalu senantiasa menelus kepala Rania yang terbalut perban.  Ia tak bisa menahan tangisnya untuk saat ini, biarlah ia cengeng untuk hari ini.

Dalam rungan yang sepi dan hanya terdengar suara monitor rumah sakit, Yuli terus memandangi tubuh sang anak yang terbujur kaku.  Tak bosan ia selalu memandang tubuh Rania saat itu hingga tak terasa sudah 2 jam Yuli berada di rungan sang anak ia menyesal tak memperhatikan anaknya.  Pantas saya tubuh itu terlihat ringkih dengan rambut yang menipis dan bibir pucat yang selalu memanggil namanya setiap waktu

“ mama….” Lirih Rania

“ Rania sayang, kamu udah bangun, maafin mama yang jarang perhatiin kamu” tangis sang mama yang tak bisa berhenti.

“ Rania sengaja ma, Rania nggak mau mama khawatir “

“ Tapi nggak begini caranya sayang” lirih Yuli yang mendengarkan uacapan Rania

“ ma, Rania ga papa, buktinya rania masih ada disamping mama, aku hebatkan ma, aku masih temanin mama “

“ Anak mama memang hebat, tapi gak seharusnya seperti itu sayang” lirih Yuli

Yuli masih dengan wajah yang penuh air mata, bahkan saat ini langit diberikan hadiah olah sang awan rinai itu seakan sebuah melodi didalam ruangan dengan bau obat yang pekat.

“ mama… Rania minta tolong sama mama, jangan nangis lagi, hari ini aku ulang tahun loh ma”

Yuli yang mendengar itu sangat menyesal, bahkan hari spesial anaknya saja ia lupa, ibu macam apa dia ini

“ maaf, maafin mama sayang, bahkan hari spesial kamu mama lupa, mama emang ibu yang buruk” ucapnya lirih

“ mama jangan ngomong gitu, sekarang mama harus janji sama Rania jangan nangis lagi, senyum terus, bahagia selalu mama” ucapnya terbata-bata.

“ Mama janji asal kamu bias seperti anak mama yang pagi tadi, bahkan makanan kesukaan mu udah basi sekarang” ucap yuli dengan mata yang tak berhenti mengeluarkan air mata.

Rania yang mendengarkan itu hanya menggeleng…ia tersenyum lalu menatap sang ibu yang berderai air mata

“ ma…I LOVE YOU “

“ I LOVE YOU TO sayang “

Ucap Yuli masih dengan kondisi yang sama sehingga monitor itu mengeluarkan suara, Yuli menangis keluar memanggil dokter, dokter pun memeriksa Rania, namun naas nyawa Rania sudah tidak tertolong “ maaf bu, anak ibu sudah sudah tak bernyawa lagi “ 

Yuli yang mendengar itu menangis dengan keras, ia kehilangan anak semata wayangnya, tepat dihari melahirkannya kedunia.

“ Rania, sayang bangun ini hari spesial kamu, ayo bangun sayang”

Yuli terus membangunkan sang anak walau semuanya hanya sebuah sengsara.

Program